Danke sehr

Danke sehr
You have a miracle

Rabu, 07 Mei 2014

The Hunger Games 2 : Catching Fire



A year after winning the 74th Hunger Games, Katniss Everdeen and Peeta Mellark must go on what is known as the Victor's Tour wherein they visit all the districts. But before leaving, Katniss is visited by President Snow who fears that Katniss defied him a year ago during the games when she chose to die with Peta.  The first stop of the tour is in District 11, former home of Rue, Katniss' 12-year-old ally who was killed in the previous games. After Katniss and Peeta voice their personal thoughts regarding both the districts' fallen tributes, a man in the crowd whistles the tune Katniss and Rue shared to ensure each another of their safety, and makes the three-finger salute of District 12. Everyone follows the man's example until a Peacekeeper shoots the man dead, leaving Katniss angry, afraid, and upset. Their mentor, Haymitch Abernathy, informs Katniss and Peeta that they must display their relationship for the remainder of their lives.
Katniss and Peeta are taken to the capital city, ride the parade again and are forced into training. They meet their fellow victors from the other Districts. The two of them are immediately wanted as allies by the majority of the tributes, although some of them are old, weak or ill-suited for the physical match. Still, she finds that some of them, while lacking in brute strength, may have valuable surviving skills. During their individual evaluations, Peeta creates a drawing of a deceased Rue covered in flowers on the floor; Katniss creates a puppet in the likeness of Seneca Crane, and suspends it by its neck on the ceiling, as a a warning to a stunned Heavensbee.
Snow hopes that Katniss will kill and betray as many other tributes as possible to stay alive, and thereby make herself impopular. However, as the games get underway, Katniss and Peeta ally with Finnick Odair and Mags, both from District 4. They find that the arena is a dome protected by forcefields; Peeta nearly dies after hitting the field, but is resussitated by Finnick. Later that night, they are attacked by a chemical weapon made up of a fog of painful poisonous gas. Mags sacrifices herself early on, allowing the others to escape. The remaining trio rests in the middle of the forest where they are attacked by mandrills. During the attack the woman from District 6, a camouflage expert and drug addict, sacrifices her life for Peeta. After they escape the mandrills and rest at the beach, they are met by District 3's intelligent tributes, Wiress and Beetee, and District 7's female tribute, the cunning Johanna Mason.
A short story, Beetee suggests a plan to electrocute the two remaining tributes outside the alliance, District 2's Brutus and Enobaria, connecting a wire to a tree that is struck by lightning at noon and midnight, daily. Beetee secures the wire to the tree, and Katniss and Johanna are required to take the other end back to the beach. The plan fails when the wire snaps, cut by Brutus and Enobaria, who are ready to kill Katniss. Johanna attacks Katniss, but cuts the tracker out of her arm and smears blood on her neck. With Katniss appearing dead, Johanna lures the other tributes away. After recovering enough to track down Peeta, Katniss finds the rest missing and Beetee unconscious. Finnick approaches and Katniss draws her bow, but hesitates to shoot. The storm clouds swirl and the lightning bolt starts to form.She attaches the remaining wire to an arrow and shoots it at the force field during the lightning strike. This causes a massive blackout in the dome, and the arena to shut down. President Snow enters the game room demanding answers, only to find that the game is off the air and Heavensbee is gone.
Due to the impact of the electric blast, Katniss is near unconsciousness, but witnesses the arena dome starting to crumble. In her last waking moment, she notices an aircraft entering and picking her up.
She awakens in an aircraft with an unconscious Beetee. Upon entering the cockpit she finds Haymitch, Finnick and Plutarch Heavensbee, who reveals himself as an ally and a turnacoat-rebel against Snow. Learning she is on her way to District 13 and Johanna and Peeta were taken away by the Capitol, she attempts to attack Haymitch for not fulfilling his promise of returning Peeta home safely. Plutarch sedates her and she awakens days later with Gale by her side, who informs that her family is safe but District 12 has been destroyed by a government airstrike.
Why i like this movie?
I like this movie because the story line is interesting. Emotionally draining and can open up the imagination of the audience. Make the audience feels like they are on the movie. I like two of the character. The name is Katniss Everdaan and Peeta Mellark. I like Katniss Everdaan  because she is an independent woman, smart and very loving family. And i think she is very cool. It is very interesting to me. And i like Peeta Mellark because he is very handsome. :)

Kamis, 24 April 2014

What Will You Do After Graduate from Gunadarma University?


            Setelah mendapatkan gelar S1 dari Universitas Gunadarma, saya akan bekerja disebuah perusahaan ternama atau bekerja di bank. Saya kurang berminat untuk menjadi PNS, tapi jika ada pembukaan penerimaan PNS, saya akan coba untuk ikut. Mungkin saja rezeki saya adalah bekerja menjadi PNS. Disaat bekerja, saya akan meluangkan waktu untuk mencari income tambahan, seperti berjualan baju, sepatu, tas, atau makanan. Agar waktu saya bermanfaat semaksimal mungkin.
Selama tiga tahun bekerja, saya mengharapkan gaji yang saya peroleh mencukupi untuk berbisnis. Saya berencana berbisnis dibidang kuliner, kedai makanan yang sehat. Karena sekarang banyak sekali restoran makanan cepat saji yang kurang sehat jika dikonsumsi untuk jangka panjang. Tujuan saya berbisnis kuliner ini adalah untuk memperbaiki pola makan seseorang agar tidak hanya mengkonsumsi makanan cepat saji saja, tetapi juga makan makanan yang sehat, seperti sayur, buah, dan makanan sehat lainnya.
I would do after graduate from Gunadarma University is want to be entrepreneur, an employee in a company as a stepping stone. Why i want to be an entrepreneur? Because the country is a developed country that has a lot of entrepreneurs. Therefore, i want Indonesia to be a developed country, so i want to be an entrepreneur. Although it not have much effect for Indonesia, but i will keep trying.

Why English is Important for Your Major?



Bahasa inggris adalah bahasa internasional yang dapat memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang dari negara lain. Sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar, tanpa adanya salah paham. Bahasa inggris sangat penting bagi jurusan akuntansi karena beberapa hal, yaitu :
Pertama, karena bahasa inggris banyak digunakan dalam istilah-istilah akuntansi. Dalam akun-akun akuntansi yang berada di dalam neraca, laporan laba/rugi, maupun laporan perubahan modal, banyak yang menggunakan bahasa inggris, seperti cash, revenue, expense, dll. Disaat kita mengetahui arti dari istilah-istilah asing tersebut, maka kita bisa membuat laporan keuangan dengan baik. Di dalam software-software akuntansi pula menggunakan bahasa inggris, untuk memahami apa yang akan dilakukan pada software yang akan digunakan, tentunya kita harus belajar bahasa inggris
Kedua, laporan keuangan yang dipublish oleh perusahaan-perusahan terbuka adalah laporan yang seluruhnya menggunakan bahasa inggris. Agar kita bisa menganalisis laporan keuangan tersebut, kita harus mengetahui apa saja isi dari laporan keuangan perusahaan yang akan kita analisis.
Ketiga, dalam dunia usaha, bahasa inggris sangatlah diperlukan. Terutama jika kita bekerja di perusahaan yang memiliki investor dari negara lain. Bahasa inggris sangat penting untuk menjalin komunikasi terhadap investor asing yang menanamkan sahamnya. Dan dengan kita mahir menggunakan bahasa inggris, seorang sarjana akan lebih diperhitungkan disebuah perusahaan, dan menjadi lebih unggul dibandingkan sarjana lainnya.
So, why the English is important for accounting majors? Because English is the one of international language, if you want know something advance, then you must and understand English. As accountant you have to required to analyze financial report, it present while using the english as international. It will be done because foreign investor could invest their share can be read in financial report that have been made by ​​firm.

Rabu, 01 Januari 2014

Siapakah Saya?


Nama saya Nabila Sishma, biasa dipanggil Nabil atau Bila. Saya lahir di Kendari tanggal 30 April 1993. Saya lahir dan tumbuh remaja di kota kecil itu, kota yang masih belum banyak tersentuh oleh pengaruh luar. Terasa sejuk, damai, dan sangat menyenangkan. Saat Taman Kanak-kanak, saya bersekolah di Taman Kuncup Kapas, tepatnya di desa Lambakara, desa terpencil dari kota Kendari. Saya senang berada di desa tersebut, memiliki banyak teman yang sangat kekeluargaan.

Setelah itu saya menempuh Sekolah Dasar di SDN 1 Ambalodangge. Di sekolah ini menjadi awal saya mengenal uang. Di umur saya yang masih dikatakan kecil, saya sudah mulai berbisnis, saya selalu berfikir apa yang bisa menghasilkan uang. Bisnis pertama saya adalah membuka perpustakaan kecil-kecilan dari kumpulan buku-buku kakak saya yang sudah tidak terpakai. Segi bisnisnya adalah jika ingin meminjam buku, maka dikenakan tarif. Karena kurang puas dengan hasil yang diperoleh, saya terus berinovasi. Saya berjualan gambar dinding, keripik singkong yang dibuat sendiri, dan masih ada lagi kegilaan yang saya lakukan. Kalau sekarang saya mengingat masa itu, selalu membuat tertawa.

Di saat Sekolah Dasar pula menjadi awal saya sangat menyukai petualangan dan camping. Saya mengajak teman-teman masuk  hutan, menelusuri kali, itu yang paling ekstream bagi anak kecil. Dan yang paling lucu adalah camping di depan rumah dan di lapangan sepak bola didekat rumah, bagi anak kecil itu sudah merupakan alam liar, ditambah lagi di sekeliling rumah bisa dikatakan sudah termasuk hutan. Seperti itulah masa Sekolah Dasar saya, banyak petulalangan dan menjadi kejadian lucu jika diingat sekarang ini.

Setelah 6 tahun menjalani masa-masa Sekolah Dasar, saya melanjutkan ketingkat Sekolah Menengah Pertama. SMPN 1 Lainea, sekolah inilah yang menjadi saksi bisu saya perjalanan cinta monyet yang tidak pernah tersampaikan. Memang terdengar miris, tapi itulah seni dari cinta monyet. Mengagumi seseorang dari kejauhan, melihat senyumannya dan merasakan kebahagiaannya. Itu akan menjadi cerita tersendiri dimasa yang akan datang saat dewasa nanti. Dan sekolah ini pula yang menjadi saksi saya beranjak remaja, peralihan dari anak-anak menjadi dewasa.

Di Sekolah Menengah Pertama ini adalah awal saya mengenal yang namanya organisasi. Mencoba menjadi anggota OSIS di SMP ini, mengikuti proses untuk bisa masuk kedalam organisasi ini. Mengikuti LDKS ini menjadi hal yang menarik bagi saya. Banyak hal yang bisa diperoleh dari Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa tersebut. Berlatih bagaimana menghadapi suatu keadaan, berlatih cepat dalam memutuskan suatu keputusan, dan masih banyak lagi yang sangat bermanfaat.

Saat yang paling berat adalah saat saya harus pindah ke Jakarta, meninggalkan kehidupan yang damai dan penuh kasih sayang yang tulus dari teman-teman, tetangga, dan guru-guru. Waktu masih berada disana, saya masih belum merasakan sedihnya meninggalkan teman-teman yang selama ini menjadi keluarga yang sangat dekat. Saya terlanjur senang membayangkan bahagianya berada di Jakarta, banyak gedung-gedung pencakar langit, semuanya ada di Jakarta. Merasa hebat akan pindah ke Jakarta, membuat saya menjadi sombong. Sangking senangnya, saya lupa berpamitan kepada teman-teman, hal itulah yang saya sesalkan. Apa yang terjadi sesampainya saya di Jakarta? Saya baru merasakan, saya kehilangan sosok teman-teman seperti mereka, mereka adalah sahabat sekaligus keluarga bagi saya. Saya jadi pendiam dan tidak bersemangat.

Disini saya harus beradaptasi dan mencari teman baru. Tapi mereka semua sudah memiliki sahabat masing-masing. Susah untuk masuk kedalam kelompok-kelompok yang sudah terbentuk di sekolah baru ini yaitu SMP Kartika XI-3, sekolah yayasan tentara yang berada di kompleks tentara yang menjadi tempat tinggal saya di Jakarta. Ayah saya mendaftarkan saya di Sekolah itu dengan pertimbangan sekolah itu dekat dengan rumah, jadi saya tidak perlu pergi terlalu jauh ke sekolah. Ayah saya tidak ingin sekolah saya jauh dari rumah, soalnya ayah saya khawatir dengan pergaulan di Jakarta dan khawatir saya nyasar. Tapi saya tidak membayangkan ada sekolah seperti ini di kota besar seperti Jakarta dan saya bisa sekolah di sekolah.

Banyak lika-liku yang saya hadapi di sekolah ini, dimulai dari teman-teman yang awalnya susah menerima saya, cara belajar yang baru, dan lain sebagainya. Tapi yang paling berat adalah cara mereka berteman itu saya rasa aneh, cara berbicara mereka yang seenaknya saja, dan perlakuan yang semena-mena sama teman mereka yang lain. Hal-hal tersebut tidak bisa saya ikuti sehingga sedikit demi sedikit saya tersingkir dari kelompok-kelompok yang menurut saya aneh. Tetapi, ternyata masih ada kelompok yang baik-baik saja, tidak terlalu menonjol, namun tata cara mereka berbicara sangat terjaga. Dan akhirnya saya juga bisa mempunyai teman yang enak diajak bermain dan belajar. Dan masa SMP terlewatkan, masa-masa yang cukup berat namun menjadi pengalaman yang sangat berharga, belum tentu yang lain memiliki pengalaman berat seperti saya.

Yey! Ini masa-masa yang ditunggu, masa Sekolah Menengah Atas. Masa yang saya bayangkan adalah masa yang sangat indah. Kalau difilm-film, masa SMA adalah masa yang mengasikkan. Wow! Sudah terbayangkan sangat menyenangkannya bersekolah di SMA. Tahun 2008 adalah tahun pertama sekolah di SMA. Saya diterima di SMAN 22 Jakarta, di sekolah team basketnya terkenal adalah lawan yang berbahaya, banyak piala yang sudah berhasil digondol. Tetapi saya kurang berminat menjadi team basket, saya lebih memilih ikut ekskul jurnalistik.

Setiap ajaran baru, pasti diadakan Masa Orientasi Siswa atau MOS. Yang paling berkesan saat MOS adalah saat saya disuruh nyanyi disetiap kelas karena salah membawa namtag. Saya tidak biasa menyanyi di depan banyak orang, perasaan campur aduk saat itu. Bukan masalah orang yang banyak, melainkan saya kurang percaya diri dengan suara saya, bisa-bisa saya dilempari bola-bola kertas oleh teman-teman yang berada di kelas, hahaha.

Ternyata apa yang saya bayangkan dimasa SMA itu tidak terealisasikan. Yang ada, Pekerjaan Rumah yang menumpuk, guru galak, paksaan untuk mendapatkan nilai yang terbaik, dan masih banyak lagi. Ada lagi yang tidak sesuai harapan, saya lebih berminat IPA, tapi saya masuk IPS karena nilai biologi saya kurang sedikit saja untuk syarat masuk IPA. Saat pembagian rapot, wali kelas saya menyatakan kalau saya bisa masuk IPA, tapi kenyataannya saat masuk ajaran baru, saya masuk IPS. Saat itu saya sangat kecewa, tapi tidak masalah, dunia belum berakhir, saya masih harus terus menjalani semuanya sampai titik darah penghabisan.
Setelah masuk kekelas, ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Bergelut dengan akuntansi, geografi, dan sosiologi sangat menyenangkan. Namun, yang jadi masalah adalah saya bukan tipe orang yang senang menghapal dan memahami hapalan tersebut, seperti sosiologi. Saya lebih berminat dengan matematika, akuntansi, dan geografi.

Ujian Negara! Adalah kata-kata yang sangat menakutkan saat itu. Membuat tidak enak makan, susah tidur, membanyangkan apa yang terjadi esok, apakah bisa mengerjakan dengan baik ataukah sebaliknya. Berdoa siang malam, perasaan menjadi gelisah. Perjuangan selama 3 tahun dipertaruhkan selama beberapa jam. Sungguh menyakitkan jika tidak lulus. Tetapi saya terus yakin bahwa saya bisa, saya mampu melewati hari-hari menakutkan itu. Alhasil semua berjalan dengan lancar, meski tidak mengetahui nilai yang didapat.

Hari pengumumanpun tiba, semalaman handphone terus berdering, banyak messages facebook yang masuk. Saling bertanya satu sama lain, karena pada saat itu pengumuman hanya lewat website sekolah, kita tidak diperbolahkan kesekolah. Dikarenakan tidak diperbolehkannya ada acara corat-coret baju sekolah. Padahal itu adalah acara yang paling ditunggu-tunggu sebagai luapan kebahagiaan karena perjuangan kita selama ini.

Pagi-pagi sekali, setelah shalat subuh saya cepat-cepat membuka website sekolah. Dan sujud syukur alhamdulillah saya lulus. Seketika hati lega, tidak tahu apa yang harus diperbuat, menangis atau berteriak untuk melepas beban yang selama ini hinggap di hati. Cuma bisa terdiam saat itu dan akhirnya memeluk ibu sambil mengeluarkan air mata kebahagiaan. Air mata tersebut mengeluarkan semua beban, rasanya lega sekali.

Selepas dari SMA saya masih bingung, mau kerja atau melanjutkan kejenjang perguruan tinggi. Waktu itu saya sempat mendapat undangan bebas tes masuk Perguruan Tinggi Negeri, tetapi saya tidak lulus undangan tersebut. Sangat kecewa karena tidak lulus dikesempatan emas itu. Setelah itu, saya mencoba ikut SNMPTN, lagi-lagi tidak lulus. Saat itu hati menjadi sangat down, terus bertanya kepada diri saya sendiri, akan kemana lagi saya.

Sebelumnya saya sudah menerima program beasiswa di Universitas Gunadarama. Beasiswa yang diberikan karena mengikuti tryout yang diberikan Universitas Gunadarma saat masih SMA, saya mendapatkan grade 1 pada Akuntansi. Jadi saya memilih jurusan akuntansi sebagai penuntun saya menjadi yang terbaik.

Selama saya menuntut ilmu di UG, saya juga menambah pengalaman bekerja di KUMON, tempat kursus matematika dari Jepang. Saya suka matematika, jadi saya sangat enjoy bekerja dilembaga ini. Berinteraksi dengan anak-anak itu sangat menyenangkan, bisa menenangkan hati karena masalah-masalah yang berada di Kampus, bisa melupakan sejenak tugas-tugas yang menumpuk.

Jadi, disinilah saya sekarang, menuntut ilmu di Universitas Gunadarma. Universitas yang akan menjadi saksi bisu saya tumbuh dewasa dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak. Insya Allah tahun 2015 saya sudah mengenakan toga kebanggaan. Dan semoga selepas dari Universitas Gunadarma, saya bisa mencapai cita-cita saya menjadi Business Women yang terkenal. :)