Sabtu, 04 April 2015

Ekonomi Amerika dan Eropa Barat pada Masa Perang Dingin dan Masa Kini

Amerika Serikat merupakan negara yang mayoritas berbangsa Eropa, yang negaranya berdiri di benua Amerika. Amerika Serikat pada awalnya adalah daerah koloni Inggris yang akhirnya merdeka pada tahun 1776 setelah melalui perang kemerdekaan dengan Inggris. Pada awal berdirinya, Amerika melakukan politik netralitas terhadap perpolitikan Eropa. Politik netralitas Amerika Serikat berjalan pasca kemerdekaan hingga beberapa masa sebelum berkecamuk perang di Eropa. Netralitas dimaksudkan agar Amerika Serikat tidak terkekang dalam urusan ekonomi terhadap salah satu pihak yang bersengketa. Politik netralitas bermaksud agar ekonomi Amerika Serikat bebas berhubungan dengan negara manapun. Posisi netral Amerika Serikat akhirnya berubah saat Perang Dunia I berkecamuk di Eropa. Amerika yang pada awalnya masih mempertahankan kenetralan akhirnya ikut campur dalam Perang dengan memihak kepada blok sekutu Inggris dan Perancis menghadapi Jerman (Jones, 1992: 59).
Keikutsertaan Amerika Serikat dalam Perang Dunia I mempererat hubungannya dengan negara-negara Eropa Barat, khususnya sekutu utama Amerika Serikat yaitu Inggris dan Perancis. Hubungan tersebut berlanjut ketika Perang Dunia II meledak, Amerika Serikat berpihak kepada blok sekutu Inggris dan Perancis menghadapi Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler. Pasca kemenangan dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat mempererat kembali hubungannya dengan negara-negara Eropa Barat sekutunya dalam menghadapi Perang Dingin dengan Uni Soviet.
Setelah Perang Dunia II berakhir, lahirlah dua kekuatan adidaya yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Hal ini telah menyebabkan sistem ekonomi dunia terbelah menjadi dua. Sistem ekonomi dunia tersebut yaitu terdiri atas sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Sistem ekonomi kapitalis cenderung berkiblat dan didominasi oleh Amerika Serikat. Sistem ekonomi sosialis cenderung berkiblat dan didominasi oleh Uni Soviet. Negara-negara di Eropa Barat dan sebagian Asia, seperi Jepang, Singapura, dan Kore cenderung menggunakan sistem ekonomi kapitalis. Amerika Serikat sebagai pemimpin kapitalis menyatakan bahwa sistem perekonomian kapitalis merupakan sistem perekonomian terbaik di dunia. Hal ini disebebkan sistem perekonomian kapitalis menekankan pada bentuk persaingan bebas sesuai nilai liberal. Paham ekonomi kapitalis ini sangat bertentangan dengan paham ekonomi sosialis. Paham ekonomi sosialis banyak diterapkan di negara-negara Eropa Timur dan sebagian Asia, seperti Cina, Korea Utara dan Vietnam. Pada sistem ekonomi sosialis, peranan pemerintah sangat mendominasi. bahkan, campur tangan pemerintah dalam kegiatan perekonomian wajib dilaksanakan. Hak milik dari perorangan atau pribadi sangat diabaikan dalam sistem ekonomi sosialis. Jadi, semua kegiatan dipusatkan dan diperuntukan bagi negara. Hancurnya perekonomian dunia menyebabkan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai negara adidaya tampil memberikan bantuan ekonomi. Namun, kedua negara adidaya itu tidak sekedar memberi bantuan ekonomi. Dibalik pemberian bantuan ekonomi tersebut, kedua negara adidaya juga memperluas pengaruh ideologinya.
Amerika Serikat memberikan bantuannya kepada negara-negara sekutunya di Eropa Barat, melalui Marshall Plan, yakni Rencana Marshall, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang dicetuskan pada tanggal 5 Juli 1947. Tujuannya untuk memberi bantuan kepada negara-negara Eropa Barat. Amerika juga memberi bantuan kepada Turki, Yunani dan Jepang melalui Truman Doctrine. Bagi negara-negara Asia, Amerika memberi bantuan ekonomi dan militer melalui Poin For Truman berdasarkan MSA. Sedangkan untuk negara-negara Timur Tengah yang tergabung dalam CENTO melalui Eisenhower Doctrine. Dengan bantuan Amerika Serikat serta negara-negara Eropa Barat secara bertahap menata kembali perekonomiannya, bahkan negara-negara tersebut membentuk suatu badan kerja sama ekonomi yang disebut European Economic Community (EEC) atau lebih dikenal dengan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa). Selain Amerika Serikat, Uni soviet pun memberikan bantuan kepada negara sekutunya. Dengan bantuan yang diberikan oleh Uni soviet,negara—negara Eropa Timur menata kembali ekonominya. Mereka, juga membentuk badan kerja sama ekonomi negara­-negara, Eropa Timur yang dinamakan COMICON (Cominiteren Economic).
Dari artikel yang penulis baca, terdapat keterpurukan ekonomi yang dialami oleh Amerika Serikat sekarang ini. Negara adidaya ini mengalami sedikit goncangan, yang terjadi tanpa diduga sebelumnya. Ada dua tekanan yang sedang menekan dolar AS, salah satunya tekanan itu datang dari berkurangnya kemampuan Federal Reserve untuk memanipulasi harga emas karena pasokan emas barat mengerut, ditambah menyebarnya informasi di pasar tentang adanya manipulasi ilegal terhadap harga emas yang dilakukan oleh The Feds. Tekanan lain muncul dari rezim Obama yang menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Negara-negara lain sudah tidak mentolerir lagi penyalahgunaan Washington atas standar dolar dunia. Washington menggunakan sistem pembayaran internasional berbasis dolar untuk menimbulkan kerusakan pada perekonomian negara-negara lain yang menolak hegemoni politik Washington.
Setelah itu, Rusia dan China telah memutuskan perdagangan internasional mereka dari US dolar. Ini berarti akan mengakibatkan penurunan besar dalam permintaan USD yang otomatis akan terjadi penurunan juga di nilai tukar mata uang US dolar. Dalam artikel tersebut menyatakan bahwa perekonomian AS belum pulih dari keterpurukan yang terjadi pada tahun 2008, bahkan semakin melemah. Sebagian besar penduduk AS dalam kondisi sulit karena tekanan ekonomi yang mengakibatkan berkurangnya pertumbuhan pendapatan selama bertahun-tahun. Sekarang ekonomi Amerika Serikat juga bergantung pada barang-barang impor, penurunan nilai dolar akan semakin menaikkan harga barang di dalam negara Amerika Serikat dan menekan standar hidup jadi lebih rendah. Mungkin kita bisa melihat pecahnya NATO dan bahkan Uni Eropa.

Sumber :
Jones, Walter S. (1993). Logika Hubungan Internasional. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar